Lelaki tua itu hanya memperhatikan anak muda yang jalan sambil menendang kerikil batu di pinggiran jalan. Lelaki itu merasa bahwa perjuangannya dulu sia-sia. Percuma ia dan rekannya mempertahankan bumi pertiwi apabila para penerus bangsa tak menghargainya.
Pemerintah juga tak ada yang memperhatikan para veteran. Lelaki tua itu hanya tinggal di sebuah rumah petak yang berukuran 3x4 meter. Ia hidup sebatang kara lantaran istrinya telah mendahuluinya, dan ia tak memiliki seorang anak pun. Ia merasa Negara ini belum merdeka.
Rekan lainnya juga harus hidup di lingkungan kumuh dengan rumah sempit dan seok untuk menemani masa tua. Seharusnya Negara ini bertanggung jawab atas nasib para veteran yang terlantar
ini.
ini.
***
Siang ini aku mendapat tugas untuk mewawancarai para veteran. Sebelumnya aku tak tahu dan tak kenal dengan Pak Wadi, veteran itu. Aku bertemu dengannya di perkampungan kumuh di pinggiran rel kereta api. Aku dan teman sekelompokku sengaja kesini, karena menurut info dari internet, para pejuang bangsa ini hidup terlantar. Ternyata itu bukan opini semata.
Aku prihatin melihat keadaan Pak Wadi. Seharusnya ia menikmati masa tuanya dengan bersantai-santai saat ini. Bukannya harus berjuang setiap hari untuk mencari sesuap nasi. Hidup dengan keadaan yang sangat minim dan kehidupan yang pas-pasan.
***
Hari ini telah memasuki hari ke 16 puasa. Aku dan rekan sekelompokku sengaja mendatangi Pak Wadi sebelum waktu berbuka, dan membawakan makanan untuknya berbuka puasa.
“assalamuailaikum !”
“waalaikumsalam” jawabnya dengan suaranya yang telah renta
Tampak sesosok lelaki tua yang membuka pintu. Laki-laki itu sudah bungkuk dan berjalan agak lamban.
“maaf pak, menggangu, kami ingin mewawancarai bapak seputar perang sebelum kemerdekaan, boleh ?” ucapku
“oh, boleh. Masuk-masuk “ tawarnya
“iya, makasih” jawab kami dan memberikan makanan yang kami bawa tadi.
Kami menunggu saat berbuka puasa datang sambil berbincang-bincang dengan Pak Wadi. Selepas itu barulah kami bertanya tentang tugas ini. Hari telah menunjukkan pukul 18.45. kami segera meminta penjelasan dengan Pak Wadi.
“ehm, waktu perang dengan Jepang dulu, bapak berusia berapa tahun?”
“waktu itu, saya masih berusia 16tahun. Saya ingat waktu itu, saya mendaftar ke pasukan untuk ikut perang. Dan saya lolos seleksi”
“keadaan pemukiman waktu itu bagaimana Pak?”
“ dulu semua kacau, kalau ibu-ibu pergi kepasar, pasti pulangnya itu di stop dengan para penjajah itu, dan melempar bakul yang berisi sayuran dari pasar”
…
Banyak pertanyaan yang kami tanyakan. Sekarang menunjukkan pukul 20.30. kami berpamitan untuk pulang.
“em, maksih pak atas infonya, kita pamit pulang” ucap Ica
“oh, ya” jawab pak Wadi
Kami pun pulang dan mulai mengetikkan hasil wawancara yang kami peroleh tadi.
***
Ica pun meninggalkanku dipersimpangan gang rumahku.
“Salsa, aku nganter sampai sini ya ? eh, besok jangan lupa bawa hasil wawancara tadi”ucap Ica padaku
“gak apa-apa kok, kan udah dekat. Oke besok aku bawa. Siip. “jawabku santai
Sesampainya dirumah, aku langsung mengetik ulang hasil wawancara tadi.
PENGAMATAN LANGSUNG DENGAN VETERAN BANGSA
Sebenarnya tak seperti yang kebanyakan diberitakan di media masa bahwa para veteran mendapat kehidupan yang layak. Masih banyak pejuang bangsa ini yang tinggal di daerah kumuh . tak sebanding dengan upaya mereka untuk membuat Negara ini merdeka dari penjajah. Namun terkadang kita menjajah Negara sendiri yang terkadang membuat para veteran merasa bahwa diri dan penorbanan mereka selama ini sia-sia. Seperti Pak Wadi, seorang veteran yang tinggal di lingkungan kumuh dengan tempat tinggal yang hanya berukuran 3x meter saja. Ia prihatin melihat Negara saat ini. Kini sudah beralih kezaman penjajahan lagi. Anya saja penjajahan itu diakibatkan Negara ini sendiri. Seperti contohnya para koruptor yang mengambil hasil dari pajak ataupun uang Negara untuk memenuhi hasrat megahnya. Lalu para Tenaga Kerja di bekerja diluar negeri yang hanya mendapatkan siksa dari orang sana. Bukankah itu suatu jajahan secara tidak langsung ? dan itu semua di rencanakan dan disusun cantik oleh Negara ini.
Sampai saat ini, Pak Wadi dan rekan-rekannya belum mendapat kemerdekaan yang seharusnya. Bukankah seharusnya mereka diplihara oleh Negara ? terkadang kelompok kami berfikir bahwa seharusnya para veteran ini mendapat perlakuan yang layak seperti yang telah kita nikmati. Bukan tinggal dirumah kardus berukuran 3x4 meter yang sangat sempit itu. Apakah Negara pernah berfikir seperti itu ? mungkin TIDAK. Para veteran itu rela SAKIT demi sebuah KEBERANIAN UNTUK MERDEKA.
***
Kriiiiiiing !!!
Bel sekolah berbunyi,,,
Kami segera memasuki ruang kelas dan tak lama kemudian guru bahasa Indonesia kami, Bu Tati meminta kami mengumpulkan tugas hasil wawancara. Akupun segera mangumpulkan apa yang sudah kutulis tadi malam.
“kerja kelompok kalian bagus. Kalian menggunakan majas satire untuk memperjelas dan menyinggung para pengurus Negara ini.. hmm,kalau begitu kelompok Salsa, kalian mendapat apresiasi terbaik untuk tugas kali ini” ucap Bu Tati pada kami
Betapa senangnya kami hari itu. Dan kami berniat untuk berkunjung kerumah Pak Wadi saat lebaran nanti. Dan hari ini, adalah hari terakhir sekolah di bulan ramadhan. Horee !
***
Gema takbir yang indah pagi ini menuntunku untuk memasuki rumah Allah untuk melaksanakan solat ied. Hari ini adalah hari kemenangan, semua makhluk kembali fitri seperti saat baru dilahirkan.
Selesai solat ied, aku dan teman-temanku mendatangi rumah kardus Pak Wadi. Seketika itu, banya orang dirumah pak Wadi dan tertera bendera kuning didepan rumahnya.
“siapa yang meninggal pak ?” tanyaku kepada seorang dipinggir jalan
“pak Wadi” jawab orang itu
“innalilahi wainnailaihi rojiun”ucapku serentak dengan teman-temanku.
Kami segera masuk kerumah kardus yang sempit itu, melihat jenazah yang terbujur kaku dan dingin didalamnya. Dengan senyum manis yang mengantarnya menuju tempat yang kekal disana. Inilah sebuah arti kemerdekaan para veteran yang terlantar. Kemerdekaan di akhir hayatlah yang membuat mereka nyaman. Hidup ini hanya sebuah dilemma. Dan sakit dilemma it uterus dihadapi dengan sebuah keberanian hingga saat seperti ini tiba. Saat dimana mereka mendapatkan kemerdekaan seutuhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar